artikel.MENINGKATKAN KUALITAS BELAJAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF.

 MENINGKATKAN KUALITAS BELAJAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF

Oleh:
Riska Oktavia
Siti Nurtilawati

STKIP BINA MUTIARA SUKABUMI

A.  Abstrak
Kualitas belajar di tentukan oleh individu yang terkait dalam proses pembelajaran tentang bagaimana kiat belajar individu tersebut intern maupun ekstern di sekolah. Kualitas belajar yang sering tersumbat dengan sulitnya belajar, maka dari itu untuk mereformasi hal tersebut dalam upaya meningkatkan kualitas belajar dengan solusi model pembelajaran yang inovatif. Model pembelajaran inovati itu sendiri merupakan model pembelajaran yang memiliki landasan teoretik yang humanistik, lentur, adaptif, berorientasi kekinian, memiliki sintak, pembelajaran yang sedehana, mudah dilakukan, dapat mencapai tujuan dan hasil belajar yang disasar.

Kata kunci: teori belajar dan pembelajaran, model pembelajaran inofavatif.

B.  Pendahuluan
sangatlah penting bagi para pendidik, khususnya guru untuk memahami karakteristik materi, peserta didik, media pembelajaran dan metodologi pembelajaran dalam proses pembelajaran terutama dalam pemilihan metode pembalajaran moderen. Dengan demikian, proses pembelajaran akan lebih variatif, inovatif dan konstruktif dalam merekonstruksi wawasan pengetahuan dan implementasinya sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik terutama dalam hal berbicara pada situasi formal. Dalam desain intruksional guru merumuskan tujuan intruksional khusus atau sasaran belajar siswa. Belajar yang terjadi pada individu merupakan perilaku yang kompleks karena tindak interaksi antara pebelajar dengan pembelajar mempunyai tujuan, sebab akibat dari interaksi pembelajaran tersebut yang sebenarnya mampu untuk didinamiskan. Pendinamisan belajar terjadi oleh pelaku belajar dan lingkungan pebelajar.
Teori pembelajaran atau teori belajar, sekaligus merupakan ilmu pengetahuan, pada prinsipnya merupakan sebuah akumulasi praktik-praktik yang berhasil dan memiliki kredibilitas tinggi dibidang ini.
Pembelajaran inovatif merupakan suatu pembelajaran yang terkondisi dengan kiat belajar tertentu. Model pembelajaran yang dapat diterapkan pada bidang studi dikemas secara koheren dengan hakikat pendidikan bidang studi tersebut.

C.  Pembahasan
1.    Belajar teori belajar dan pembelajaran
Belajar merupakan kegiatan sehari-hari bagi siswa sekolah. Kegiatan belajar tersebut ada yang dilakukan di sekolah maupun diluar sekolah. Ditinjau dari segi guru, kegiatan belajar siswa tersebut ada yang tergolong dirancang dalam desain intruksional. Kegiatan belajar yang termasuk rancangan guru, bila siswa belajar di tempat-tempat tersebut untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah. Disamping itu, ada juga kegiatan belajar yang tidak termasuk rancangan guru. Artinya, siswa belajar karena keinginan sendiri. Pengetahuan tentang “belajar, karena ditugasi” dan “belajar, karena motifasi diri” penting bagi guru dan calon guru. Belajar menurut Gagne merupakan kegiatan yang kompleks. Sedangkan menurut Rogers praktek pendidikan menitik beratkan pada segi pengajaran, bukan pada siswa yang yang belajar. Siswa merupakan subjek yang terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah, siswa mengalami suatu proses belajar dalam proses belajar tersebut, siswa menggunakan kemampuan mentalnya untuk mempelajari bahan belajar dengan kemampuan-kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Siswa belajar karena dorongan keingintahuan ataupun kebutuhannya. Tujuan belajar penting bagi guru serta siswa itu sendiri. Dalam desain intruksional guru merumuskan tujuan intruksional khusus atau sasaran belajar siswa. Belajar yang terjadi pada individu merupakan perilaku yang kompleks karena tindak interaksi antara pebelajar dengan pembelajar mempunyai tujuan, sebab akibat dari interaksi pembelajaran tersebut yang sebenarnya mampu untuk didinamiskan. Pendinamisan belajar terjadi oleh pelaku belajar dan lingkungan pebelajar. Perihal tentang belajar maupun proses pembelajaran setiap orang terlebih dahulu harus mampu mengetahui teori-teori belajar dan pembelajaran itu seperti apa?  Namun bagi siapapun yang akan mengaplikasikan teori belajar hendaknya tidak terpaku kepada satu dua teori saja melainkan disesuaikan dengan kondisi faktual, keberagaman, tingkat perkembangan, dan sasaran atau tujuan belajar. Ada teori belajar yang didasarkan yang didasarkan atas prinsip asosiasi, ada pula yang didasarkan atas prinsip pemahaman. Satu dua teori dapat dipadukan untuk diterapkan, namun tidak setiap satu dua teori dapat dipadukan satu sama lain. Guna memahami secara komprehensif makna belajar menurut teori psikologi, penting sekali mengerti apa yang ‘bukan’ belajar.
Pertama, belajar bukanlah kegiatan yang hanya berlangsung didalam kelas semata, tetapi juga berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, belajar buakn hanya mencakup segala sesuatu yang benar saja, melainkan juga mencakup segala sesuatu yang tidak benar.
Ketiga, belajar bukan hanya dilaksanakan secara sengaja dan sadar, melainkan juga sebaliknya.
Keempat, belajar bukan hanya menyangkut pengetahuan dan keterampilan saja, melainkan juga termasuk sesuatu yang berkaitan dengan sikap dan emosional (Woolfolk & Hughes).
Pemahaman secara umum menjelaskan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman (Gage & Berliner). Meskipun banyak perubahan prilaku manusia, ternyata tidak semua perubahan prilaku manusia dapat dikategorikan atau memiliki kualitas untuk disebut sebagai belajar. Selain dari karena belajar, ada perubahan prilaku manusia sebagai hasil dari kematangan (maturation), yakni perubahan prilaku sebagai hasil dari proses normal pertumbuhan (growth) dan perkembangan (develoment) manusia. Jadi, belajar dibedakan dari kematangan. Perubahan pada diri manusia dalam bentuk karakteristik fisik seperti tinggi, atau berat badan misalnya, tidak termasuk sebagai belajar, melainkan karena pertumbuhan, perkembangan, dan kematangan.
Teori belajar yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap teori pembelajaran atau teori desain pembelajaran dikategorikan kepada beberapa hal seperti orientasi behavioral, kognitif, dan humanistik dimana sudut pandang kognitif tetap dominan saat ini. Teori belajar dan pembelajaran merupakan dua sumber pengetahuan yang kaya yang berterap langsung pada pengembangan teori desain pembelajaran, bersama dengan teori sistem umum dan teori komunikasi, teori-teori itu memberi pondasi berbasis penelitian untuk teori yang baru. Namun teori pembelajaran atau teori desain pembelajaran, sekaligus merupakan ilmu pengetahuan, pada prinsipnya merupakan sebuah akumulasi praktik-praktik yang berhasil dan memiliki kredibilitas tinggi dibidang ini.
Menurut Reigeluth & Carr-Cheliman, dewasa ini ada 6 teori yang mendasari teori pembelajaran atau teori desain pembelajaran, yaitu teori prosedur pembelajaran, teori analisis pembelajaran, teori perencanaan pembelajaran, reori pengembangan pembelajaran, teori implementasi pembelajaran, dan teori evaluasi pembelajaran. Menurut Reigeluth, ada empat tahapan yang umumnya dilewati oleh para ilmuwan pembelajaran dalam mengembangkan teori pembelajaran.
Keempat tahapan tersebut meliputi:
a.       Pengembangan hipotesis
Pengembangan hipotesis pembelajaran ini dilakukan berdasarkan data, pengalaman, intuisi, atau logika. Tahapan ini bisa saja dimulai dari pengembangan hipotesis-hipotesis yang khusus, sempit, atau bersifat lokal, baru kemudian berdasarkan hipotesis-hipotesis yang khusus itu di kembangkan kepada hipotesis yang umum dan lebih komprehensif, atau sebaliknya.
b.      Klasifikasi  variabel
Pada tahapan ini dilakukan aktivitas seperti mengidentifikasi, mendeskripsi, dan mengklasifikasi variabel-variabel yang mungkin dapat dimasukkan ke dalam suatu teori pembelajaran.
c.       Pengembangan prinsip
Pengembangan prinsip ini biasanya mendeskripsikan hubungan sebab akibat yang ada diantara variabel-variabel pembelajaran yang telah di identifikasi pada tahap kedua. Prinsip pembelajaran ini mampu di jabarkan dari hipotesis yang telah di kembangkan pada tahap pertama.
d.      Membangun teori
Teori dapat di bangun dengan cara pembelajaran mengintegrasikan komponen-komponen strategi (metode) menjadi metode-metode yang optimal bagi seperangkat kondidsi dan hasil pembelajaran yang berbeda.
2.    Faktor penghambat kualitas belajar
Faktor yang menghambat kualitas belajar seorang siswa biasanya muncul karena siswa yang kesulitan belajar. Banyak orang, termasuk sebagian besar para pendidik tidak mempu untuk membedakan antara kesulitan belajar, lambat belajar, dan tuna grahita. Kesulitan belajar menunjuk pada sekelompok kesulitan yang dimanifestasikan dalm bentuk kesulitan yang nyata dalam kemahiran dam penggunaan kemampuan mendengarkan, bercakap-cakap, membaca, menulis, menalar, atau kemampuan dalam bidang studi matematika. Gangguan tersebut intrinsik dan diduga di sebabkan oleh adanya disfungsi sistem saraf pusat. Pada umumnya semua guru memandang semua siswa yang memperoleh prestasi belajar yang rendah disebut siswa yang berkesulitan belajar. Angka kejadian (prevalensi) anak berkesulitan belajar terkait erat dengan definisi yang digunakan karena alat identifikasi dan asesmen untuk menentukan angka kejadian di dasarkan atas definisi tertentu. Meskipun beberapa kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan sering berkaitan dengan kegagalan dalam pencapaian prestasi akademik. Untuk mencapai prestasi akademik yang memuaskan seorang anak memerlukan penguasaan keterampilan prasyarat. Anak yang memperoleh prestasi belajar yang rendah karena kurang menguasai keterampilan prasyarat, umumnya dapat mencapai prestasi tersebut setelah menguasai kegiatan prasyarat. Faktor utama yang menyebabkan seorang anak kesulitan belajar (learning disabilities) adalah factor internal, yaitu berupa strategi pembelajaran yang keliru.
3.    Pembelajaran inovatif
Proses belajar adalah serangkaian aktivitas yang terjadi pada pusat saraf individu yang yang belajar. Proses belajar terjadi secara abstrak, karena terjadi secara mental dan tidak dapat diamati. Oleh karena itu, proses belajar hanya dapat diamati jika ada perubahan perilaku dari seseorang yang berbeda dengan sebelumnya. Perubahan perilaku tersebut bisa dalam hal pengetahuan, afektif, maupun psikomotoriknya.
Proses belajar terbagi kedalam beberapa tahap yaitu:
a)      Tahap motovasi. Tahap motivasi, yaitu saat motivasi dan keinginan siswa untuk melakukan kegiatan belajar bangkit.
b)      Tahap konsentrasi, yaitu saat siswa harus memusatkan perhatian, yang telah ada pada tahap motivasi, untuk tertuju pada hal-hal yang relevan dengan apa yang akan dipelajari.
c)      Tahap mengolah, siswa menahan informasi yang diterima dari guru dalam short term memory, atau tempat penyimpanan ingatan jangka pendek, kemudian mengolah informasi untuk diberi makna (meaning) berupa sandi-sandi sesuai dengan penangkapan masing-masing. Hasil olahan itu berupa simbol-simbol khusus yang antara satu siswa dengan siswa lainnya berbeda.
d)     Tahap menyimpan, yaitu siswa menyimpan simbol-simbol hasil olahan yang telah diberi makna ke dalam long term memory (LTM) arau gudang ingatan jangka panjang. Pada tahap ini hasil belajar sudah diperoleh baik sebagian maupun keseluruhan.
e)      Tahap menggali (1), yaitu siswa menggali informasi yang telah disimpan dalam ltm ke stmuntuk dikaitkan dengan informasi baru yangbsudah diterima.
f)       Tahap menggali (2), menggali informasi yang telah dinsimpan dalam ltm untuk persiapan fase presentasi, baik langsung maupun melalui stm. Tahap prestasi, informasi yang telah terhgali pada tahap sebelumnya digunakan untuk menunjukanprestasi yang merupakan hasil belajar.
g)      Tahap umpan balik, siswa memperoleh penguatan (konfirmasi) saat perasaan puas atas  prestasi yang ditunjukkan.
model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Jadi model pembelajaran cenderung preskriptif, yang relatif sulit dibedakan dengan strategi pembelajaran.. Dengan tahapan-tahapan diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang inovatif adalah suatu pembelajaran yang terkondisi dengan kiat belajar tertentu. Seperti:
1)      Masuk kelas tepat waktu
Sebagai pelajar yang terikat oleh peraturan seklah, yang salah satunya pelajar diharuskan turun kesekolah dan masuk kelas tepat pada waktunya ini tidak bisa dilalaikan. Masuk kelas tepat waktu adalah suatu sikap mental yang banyak mendatangkan keuntungan, dari segi kepribadian, guru memuji dengan kata pujian, teman sekelas tidak terganggu ketika sedang menerima pelajaran dari guru, konsentrasi terpelihara dan penjelasan dari guru dapat dicerna dengan baik.
2)      Memperhatikan penjelasan guru
Ketika sedang menerima penjelasan dari guru tentang materi apa yang di sampaikan dari bidang studi tersebut. Pendengaran serta penglihatan harus benar-benar terpusatkan kepada penjelasan guru. Jangan sesekali bicara yang dapat membuyarkan konsentrasi. Menulis sambil mendengarkan penjelasan guru itu adalah hal yang paling dianjurkan agar catatan itu dapat digunakan suatu waktu. Pentingnya mendengarkan penjelasan guru karena terkadang apa yang dijelaskan tidak termuat dalam buku paket atau sesuatu hal yang rancu yang terdapat dalam buku paket yang belum dimengerti maka dari itulah penjelasan guru harus diperhatikan.
3)      Mencatat hal-hal yang dianggap penting
Ketika belajar didalam kelas guru tentu menjelaskan materi yang sedang dibahas penjelasan itu jangan ditulis semuanya tetapi tulis apa-apa saja yang di anggap penting. Dengan mencatat hal-hal yang penting itu kita tidak perlu tergesa-gesa, tetapi cukup mencatatnya dengan tenang, berdbeda halnya dengan mencatat semua penjelasan guru, itu akan mennyebabkan kesulitan untuk mencatat.
4)      Aktif dan kreatif dalam kerja kelompok
Guru yang mengajar dengan pendekatan kelompok buasanya membagi pelajaran dalam beberapa kelompok. Dengan harapan semua pelajar dapat aktif dan kreatif dalam belajar. Harapan guru itu harus ditanggapi dengan baik, pelajar harus aktif dan kreatif dalam kelompok dengan cara berdiskusi dengan teman untuk menentukan mana jawaban yang benar atau penyelasaian masalah yang dapat dipertanggung jawabkan di hadapan guru.
5)       Bertanya mengenai hal yang belum jelas
Apa yang guru jelaskan belum tentu semuanya dapat dimengerti. Penjelasan yang guru berikan dengan panjang lebar terkadang ada bahasa guru yang mudah dipahami dan juga sukar untuk dipahami. Akibatnya anda sebagai pelajar mengalami permasalahan yang harus diselesaikan. Bertanya adalah alternatif cara untuk mengetahui hal yang belum dimengerti atau rancu dalam pemikiran untuk mengerti apa yang belum dimengerti untuk itulah apabila ada sesuatu hal yang belum jelas ataupun tidak dimengert harus di tanyakan kepada guru.
Selain daripada hal-hal diatas yang harus dipatuhi atau dilaksanakan seorang siswa demi terciptanya pembelajaran yang inovatif dan kondusif seorang guru juga dituntut untuk bersikap moderen terutama dalam hal pemilihan materi pembelajaran yakni memanfaatkan kearifan lokal sebagai media pembelajaran. Guru memberikan kesempatan siswa untuk mengamati atau mengobservasi materi atau objek yang dijadikan guru sebagai media pembelajaran. Di sela-sela penyampaian materi, siswa diizinkan bertanya tanpa harus menunggu guru selesai menyampaikan materinya. Hal ini dilakukan agar siswa memahami materi pembahasan secara komprehensif (menyeluruh). Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir kritis, logis dan sistematis melalui kegiatan diskusi. Guru memberikan instuksi kepada siswa untuk melakukan eksperimen (melakukan percobaan) terutama untuk memilih materi yang nantinya disampaikan di depan kelas. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa, bagi siswa yang mendapatkan tongkat (stick) diharapkan untuk ke depan menyampaikan hasil secara santun, tegas, bertanggung jawab dan secara logis, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk berbicara di depan kelas. Guru menginstruksikan kepada siswa untuk mengkomunikasikan hasil eksperimen mereka secara detail sekaligus rinci dengan susunan bahasa yang baik dan benar, intonasi yang tepat, mimik muka serta ekspresi anggota badan maupun tubuh yang mencerminkan penjiwaan yang sinkron dengan tema bahasan. Selain itu ditengah-tengan pembelajaran guru berusaha menginspirasi para siswa dengan tujuan membangkitkan motivasi siswa.



D.  Simpulan
       Perencanaan pembelajaran sangat penting untuk membantu guru dan siswa dalam mengkreasi, menata, dan mengorganisasi pembelajaran sehingga memungkinkan peristiwa belajar terjadi dalam rangka mencapai tujuan belajar. Model pembelajaran sangat diperlukan untuk memandu proses belajar secara efektif. Model pembelajaran yang inovatif adalah model pembelajaran yang memiliki landasan teoretik yang humanistik, lentur, adaptif, berorientasi kekinian, memiliki sintak. pembelajaran yang sedehana, mudah dilakukan, dapat mencapai tujuan dan hasil belajar yang disasar.
Model pembelajaran yang dapat diterapkan pada bidang studi hendaknya dikemas koheren dengan hakikat pendidikan bidang studi tersebut. Namun, secara filosofis tujuan pembelajaran adalah untuk memfasilitasi siswa dalam penumbuhan dan pengembangan kesadaran belajar, sehingga mampu melakukan olah pikir, rasa, dan raga dalam memecahkan masalah kehidupan di dunia nyata. Model-model pembelajaran yang dapat mengakomodasikan tujuan tersebut adalah yang berlandaskan pada paradigma konstruktivistik sebagai paradigma alternatif.   

















DAFTAR PUSTAKA
Wahyuni, Esa Nur. Baharuddin. 2010. Teori belajar dan pembelajaran. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Rahardjo, Murjo. Daryanto. 2012. Model pembelajaran inovatif. Jogjakarta: Gava Media.

Suranto,. 2015. Teori brlajar danpebelajaran kontemporer. Jogjakarta: LaksBang.

Dimyanti,. Mudjiono. 2009. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Jurnal Bakti Saraswati Vol.04 No.01. Maret 2015. https://media.neliti.com/media/publications/75803-ID-penerapan-metode-pembelajaran-inovatif-t.pdf (Diakses pada: 5 Januari 2018).
















Komentar